“Koperasi” Solusi ekonomi ditengah pandemi Covid-19
“Kembali ke Soko Guru”

Di Denmark 90 persen pangsa pasar produk pertanian, peternakan dan perikanan serta kaitannya dimiliki oleh koperasi. Sebagian sisanya dikuasai oleh usaha kecil menengah (UKM).

Koperasi milik petani menguasai semua usaha hulu sampai hilir sektor pertanian, peternakan dan perikanan. Seorang peternak susu yang sempat saya temui dengan bangga bercerita bahwa bukan hanya semua produk susunya ditampung oleh koperasi, tapi masalah kesehatan ternak pun diurus oleh koperasi.

Pemerintah kemudian mengeluarkan aturan bahwa tanah tanah yang kosong, tak boleh dimiliki swasta. Ladang ladang tersebut dibagi bagikan ke petani sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Petani punya ladang yang sangat luas. Koperasi kemudian berkembang ke berbagai unit usaha yang mendominasi ekonomi Denmark sampai ratusan tahun.

Diantara koperasi yang omset penjualannya besar adalah :

1. Arla Food (dairy), memiliki penjualan pertahun sebesar DKK 73,6 Milyar (Rp 147,2 Triliun)
2. Danish Crown (daging), penjualan pertahun DKK 58,03 (Rp 116 Triliun)
3. DLG (farm supply), penjualan pertahun DKK 59,1 (Rp 118 Triliun)
4. Kopenhagen Fur Center, penjualan pertahun DKK 13,3 (Rp 26,6 Triliun).

Produksi Pertanian 3 Kali Dari Kebutuhan Banyak negara, termasuk Indonesia belum swasembada pangan (kejadiannya: tak pernah, pernah swasembada, kemudian tidak swasembada lagi), tapi Denmark menghasilkan pangan 3 kali lipat dari kebutuhan penduduknya.

Artinya produksi pangan Denmark melimpah ruah. 30% untuk konsumsi sendiri, sisanya (70%) diekspor ke 100 negara di berbagai penjuru dunia. Ada juga disumbangkan sebagai bantuan luar negeri Denmark ke negara negara Afrika atau negara yang kekurangan pangan.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari Denmark, mulai dari pemberdayaan petani (sehingga lebih kuat dari konglomerat) sampai ke usaha pengadaan pangan yang melimpah ruah!…semoga menginspirasi 🙏🙏😊 Desa Emas ….Siap kami BISA💪💪

Facebook Comments Box
(Visited 73 times, 1 visits today)